Categories
Uncategorized

Kayuhan 1000 km /80 jam seorang Gia Amalia

Kalau aku tidak salah ingat, February tahun 2012, adalah pertemuan pertamaku dengan sobat yang satu ini, Gia Amalia. Saat itu menjelang event Srikandi B2W Inspirasi Bagi Negeri akan digelar. Kami dipersatukan mulai awal latihan hingga event tersebut berakhir. Tak kenal maka tak sayang….dan bagiku setiap perkenalan baru adalah berkah. Karena itulah awal kita menambah warna dalam kehidupan sosial sebagai manusia. Entah itu warna yang gelap, cerah ataukah abu-abu, tapi semuanya memberi makna pada hati. Dalam jiwa, ada yang melekat tinggal selamanya, berulang datang pergi, dan ada pula yang sekedar mampir memberi sapuan warna lalu hilang selamanya. Gia, termasuk kategori I bagiku….

Pertemuanku dengan Gia pada latihan Srikandi B2W II’ 2012. Saat itu adalah gowesan jarak jauh perdana baginya. (dok. Srikandi B2W)

Pada 2012 itu, Gia adalah perwakilan (yang juga lolos seleksi) dari komunitas sepeda 69’ers. Aku sendiri belum terbiasa dengan komunitas sepeda yang jumlahnya cukup banyak, karena selalu bersepeda  jarak jauh sendirian. Sejak event ini digelar 2011 oleh B2W Indonesia, barulah kukenal beberapa komunitas yang di dalamnya belum terlampau banyak pesepeda perempuan, saat itu. Ada beberapa kawan seperti juga Gia, bermula dari cross country (XC) memakai MTB dan akrab dengan bermain tanah. Hal yang belum pernah samasekali kucoba karena aku terbiasa menikmati jarak jauh dengan gembolan di jalan aspal. Maka saat aku kenal dengannya, banyak hal baru yang menarik dan mulai aku pahami. Aku menjajal satu event XC dimana Gia menemani aku berlatih dan dia yang menjadi saksi bahwa helm telah menyelamatkanku dari cidera kepala. Setelah itu aku tahu, passion kami berbeda dalam bersepeda alias aku kapok jatuh bergulung-gulung lagi hehhee.

Setelah event Srikandi II tersebut, kami tak selalu sering bertemu karena kegiatan masing-masing. Tapi persahabatan tak pernah mampu diganggu oleh jarak dan waktu. Kapan bisa jumpa, disitu pasti selalu ada tawa dan cerita. Kerap, kami bersingggungan di media sosial tempat berbagi. Disitu aku mengikuti, Gia selalu bergerak maju dan maju. Berlatih serius menjelang tantangan yang akan diikuti. Podium memang sasaran kita dalam berpacu, tapi bukan hanya itu. Yang kulihat dari Gia pun demikian. Kesenangan melakukan sesuatu yang dicintai dari hati itulah yang utama baginya. Podium adalah bonus yang cukup sering diraih oleh Gia, namun jika tak tergapai, kepuasan upaya maksimalah yang membuat bahagia dan terus ingin maju. Istirahat sejenak saja, tapi tak akan pernah berhenti.

Gia (paling kanan dari foto) saat kami touring ke Batu Karas dengan beberapa kawan Srikandi B2W. (Dok. pribadi Aristi)

Kali ini, di usianya yang sudah matang pohon, ditengah kesibukan sebagai ibu dari 3 anak dan 1 suami 😂, sobatku itu menjajal gowesan aspal 1000 km jauhnya dengan batasan waktu 75 jam saja. Event Yogyakarta Ultra Cycling Challenge 1000 km/75 jam yang digelar oleh Audax Randonneurs Indonesia (ARI) di bulan Januari 2021. Kerennya lagi, 1000 km ini merupakan jarak Audax terjauh pertama yang digelar di Indonesia.

Bagiku yang biasa bersepeda jarak jauh namun santai dengan pace keong senikmatku, ini adalah hal yang luar biasa menantang. Gowesan jauh itu unik, karena di sepanjang jalan diri kita sendirilah yang akan jadi kawan dan lawan. Jikalau gowes bersama rombongan, kita pulalah yang harus mengatur diri, bagaimana bersikap dengan sesama kawan saat lelah atau kendala menerpa. Menjaga agar jangan memperburuk suasana dengan kelelahan kita. Bagi Gia yang sudah terbiasa melibas aspal dengan jarak yang tidak main-main pasti sudah paham apa yang akan dihadapinya.

Pengalaman gowes jarak jauh Gia Amalia sebelumnya, mulai dari :

  • Event Srikandi B2W II melibas Jepara – Bandung 700 km,
  • Event Srikandi B2W III menyelesaikan rute Aceh – Padang 1400 km,
  • Gowesan Jakarta – Semarang (7 gunung) 460 km,
  • Melibas Solo – Bali sejauh 670 km,
  • Menjajal aspal Negara tetangga Batam – Singapura – Malaysia 785 km,
  • Event Jelajah KOMPAS Balikpapan – Banjarmasin 567 km,
  • Touring rombongan kecil Maumere – Labuanbajo 575 km dan beberapa event jarak jauh lainnya,

Yang notabene semua dilakukan dalam rentang waktu termasuk wajar berbanding dengan jaraknya. Adalah tempaan fisik serta mental ekstra untuk menjajal event 1000 km yang batas waktunya kalau buat aku pribadi sih menyeramkan hehehe. Karena biasanya 1000 km itu kutempuh santai dalam waktu 2 mingguan . Jadi saat ada event macam Audax 1000 km 75 jam ini, dan salah satu sobat perempuanku ikut, hal itu….hanya membayangkannya saja cukup memacu adrenaline dan rasa senewenku.

Tanggal 8 February 2021 lalu, aku berkesempatan mewawancarai Gia Amalia. Kepingin dengar langsung kisah persiapan hingga upaya menyelesaikan 1000 km / 75 jam. Simak yuuk  !

Aku (A) : Gia, apa sih yang bikin kamu pingin nyobain ngegowes 1000 km berbatas waktu ??

Gia (G) : Setelah Srikandi III 1,400 km, baru sekian lama lagi ngerasain ada goal yang menantang. 1000 km tapi dalam 75 jam ! Adrenaline aku langsung menggelitik menari-nari ( kata Gia, lebay dikit gapapa yaa heheh). Jadi pas dengar ada event ini, langsung pingin jajal.

A : Ada rasa ragu gak sih sebagai peserta perempuan yang hanya 2 orang di kategori 1000 km ini ?.

G : Justru dari awal gak ada ragu karena merasa semangat banget dan optimis untuk ikut event ini. Tapi kan aku gak seendiri atau berdua, aku berenam dengan suami dan kawan-kawan pria..jadi dari mula sudah harus siap dengan segala resikonya. Sebab kami sudah tekadkan no one left behind, selalu bersama. Nah itu juga tidak mudah. Tapi dengan bekal pengalamanku gowes jarak jauh dalam rombongan kecil maupun besar , positif thinking aja dan siap dengan semua resikonya.

A : Cerita dikit dong yang dirasakan pas baru mulai latihan lalu saat eventnya. Hal-hal apa yang kamu anggap asyik dan yang menyebalkan juga apaan ?

G : Yang seru itu pas latihannya..tiap pagi bangun jam 4, persiapan untuk start latihan pk. 5.00 – 5.30. Pernah juga latihan di jam 4 pagi. Kadang aku latihan berdua dengan Xto Redy (salah satu kawan segroupnya). Untuk menyamakan pace, gowes bareng berenam, terdiri dari aku sendiri, Romi,Rayza,Ronald,Xtoredy,Safii. Yang aku suka banget sih saat gowes nanjak hujan-hujanan, Semangatnya, adrenalinenya terasa banget. Kita memang membiasakan diri latihan di segala cuaca karena itu yang nanti akan kita hadapi. Terbukti, pas event berlangsung hujan mengguyur kami 2 hari sepanjang waktu. Baju basah kering basah lagi. Maka di check point (CP) beli kaos untuk gantinya jersey semua sudah kuyub, supaya gak masuk angin. Keringat campur air hujan jadi makananku 2 hari itu. Kalau jalan malam hari, yang ngeri itu banyak truk serta jalan berlobang yang tertutup genangan air, jadi kami wajib ekstra hati-hati dan otomatis kecepatan tidak bisa konstan. Di CP itu, kami berdiskusi untuk target waktu ke CP selanjutnya, sembari nambah asupan makan ringan dan minum serta konsumsi vitamin juga. Tapi hasil diskusi ynag kami capai gak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Karena ada kendala seperti pecah ban, atauu pas lagi enak gowes adalah yang ngantuk, ada yang kelaparan…ya kita stop semua. Karena komitmen tadi. Jadi semua dibawa happy, dibawa gila-gilaan bercanda agar mood gowes tetap baik. Semua itu factor X yang gak bisa dihindari, jadi aku hadapi dan nikmatin aja.

Salah satu moment latihan di Binloop bersama Xto Redy. (foto: Taufik Hidayat)

A : Wiiih…seru banget ya !! Nah…sebagai perempuan, apa sih yang kamu rasakan menjadi kendala ?

G : Yang paling jadi kendala sih masalah buang air kecil, gak bisa sembarangan hahaha… jadi ya nunggu di CP atau ada warung atau pohon besar. Memang sih kita ini , perempuan yang mau ikutan event seperti ini harus benar-benar bisa mandiri dan tahan banting. Harus bisa ganti ban sendiri, gowes tengah malam terpisah sendirian atau berdua, harus rela tidur dimanapun, di tempat-tempat yang bukan tempat untuk tidur dan juga gak selalu bersih hehehe dan harus mampu memejam mata, deep sleep di setiap ada kesempatan. Karena istirahat walau hanya sebentar amat sangat berarti, recharge tenaga dan mood. Jadi kita gak bisa milih-milih tidur. Dan perlu diingat, event Audax ini adalah  unsupported ride ( gowes mandiri tanpa ada team support berupa mobil atau motor yang mengikuti rombongan ) jadi semuanya kita harus bisa atur sendiri. Gak ada montir, gak ada feeding dan sebisanya kita tidak menambah beban dengan tergantung pada kawan seperjalanan. Kalau yang terbiasa diladenin kebutuhannya, ya sulit juga adaptasinya kalau mau ikutan event macam ini.

Kemampuan tidur di segala medan jadi faktor penting juga dalam menjaga stamina.
Pelajari sepeda kita. Minimal harus bisa ganti ban dan rantai yaah..

A : Okay…intinya harus jadi perempuan mandiri dan tahan banting yaah. Lalu apa sih yang paling kamu kuatirkan dalam event ini ?

G : Yang paling aku kuatirkan justru bukan masalah terkait fisik, tapi dengan berbagai macam karakter teman-teman serta aku sendiri yang nantinya saat lelah pasti akan lebih terasa sulit adaptasi. Itu yang aku kuatirkan, apakah aku bisa misalkan, sabar, membawa diri tanpa emosi dan lain-lain hal semacam itu. Juga pace yang berbeda-beda, kondisi tubuh yang turun naik diantara kami semua. Setelah pengalaman kemarin, kalau saranku yang mau ikut event seperti ini lebih baik sendiri atau berdua untuk meminimalisir kendala yang mungkin terjadi.

Canda tawa, menjaga rasa bersama. Agar hal yang berat tak jadi sengsara.

A : Boleh tahu gak cara latihanmu seperti apa ? dan waktu berlatih yang kamu punya berapa lama jelang event ini  ?

G : Aku hanya punya waktu 2 minggu full untuk latihan khusus event ini. Latihannya long ride 2 jam – 3 jam – 5 jam, dengan Heart rate zona latihan E2, itu aku nge-loop di Bintaro Loop. Latihan nanjak jarak jauh 174 km dengan elevasi 2,400 mdpl dari total elevasi 8000 mdpl. Kita harus mempelajari dan paham rutenya, kontur daerah yang akan dilewati. Aku benar-benar memaksimalkan waktu 2 minggu itu untuk menyiapkan fisik dan mental. Asupan makanan juga harus diperhatikan, kalau aku terbiasa tidak banyak konsumsi karbo, lebih banyak protein. Latihan berat juga harus dibarengi dengan istirahat yang baik dan benar supaya stamina kita gak turun.

A : Hehehe jadi memang sangat perlu disiplin ketat ke diri sendiri ya, tidak main-main latihannya apalagi kita kan bukan atlit ya… Kalau saat menstruasi apakah kamu rasakan juga efeknya ke latihan jarak jauh itu atau ada pengurangan kilometer sesuai dengan kondisi tubuh ? sebab pada perempuan siklus bulanan tersebut juga sangat pengaruh ke performa tubuh kan.

G : Iya..aku merasa lebih cepat lelah dan gak nyaman berada di atas saddle dalam jangka waktu yang lama. Tapi semua rasa itu aku tepis dengan tetap fokus pada apa yang mau aku capai. Alhamdulillah dengan fokus yang terjaga, semua keluhan bisa tertangani.

A : Pingin tahu nih, adakah orang yang menginspirasi dan mensupport kamu pada challenge kali ini ?

G : Hmmm…justru aku ingin bisa menginspirasi sahabat-sahabat pesepeda perempuan yang mungkin masih ragu dengan bersepeda jarak jauh. Bahwa kita perempuan mampu survive dan tangguh menyelesaikan tantangan semacam ini. Bahwa yang menghalangi kita dalam disiplin berlatih ya hanya diri kita sendiri.

Salah satu moment nanjak pada rute YUCC 1000km/75 jam.

A : Setelah berhasil finish walaupun over COT (melewati batas waktu yang ditentukan) , rasanya gimana sih ?

G : Jujur ada rasa kecewa karena semestinya kami bisa finish under COT (dibawah batas waktu yang ditentukan). Tapi aku tetap sangat bersyukur kami lengkap berenam bisa finish bersama-sama dan dalam keadaan sehat tanpa cidera. Itu sih harga dan pengalaman yang membahagiakan dan tidak tergantikan. Dalam group aku ada teman-teman yang baru mulai bersepeda jarak jauh lho… tapi mental mereka mental juara. Ada juga yang hampir berhenti karena merasa menghambat pergerakan group. Tapi kami sudah komitmen kan… jadi semua saling menyemangati, membesarkan hati serta saling mengingatkan lagi bahwa start bareng, finish bareng. Batas waktu (COT) memang diupayakan, tapi yang terdepan tetap kebersamaan. Rasa kecewa pasti ada, tapi mampir sebentar saja. Sebab aku merasa pengalaman spiritual mengalahkan diri, ego dan saling empati itu yang bikin jiwa kita semakin kaya….bukan hanya pencapaian under cot.

Bukan hal mudah mengatur jam biologis, waktunya tidur tapi harus gowes.
Menikmati tiap kayuhan, pagi, siang ketemu malam.

A : Kalau ada event seperti ini lagi, adakah hal-hal yang mau kamu koreksi saat event berlangsung ?

G : Aku ingin mampu lebih bisa mengatur waktu saat di setiap CP. Dari total waktu kami finish 80 jam, waktu istirahat kami lumayan banyak 37 jam sendiri. Moving time kami 43 jam. Artinya banyak waktu yang terbuang. Strateginya, gowes secapeknya lalu harus bisa tidur (deep sleep) dalam waktu yang singkat. .

A : Aku salute dengan pencapaianmu, bu…hehe. Mau titip kalimat penyemangat gak buat sobat-sobat gowes perempuan yang sekarang ini sudah sangat menjamur jumlahnya… semoga kegiatan bersepda ini dapat dinikmati dari hati kawan2 kita ya, gak pernah kapok dan bukan jadi aktivitas yang ngehits semata.

G : Iya benar…sekarang ini banyak sekali kawan-kawan goweser perempuan dengan sepeda yang beragam. Senang sih lihatnya, semoga awet dengan hobbynya. Kita semua ini kan istimewa tercipta dari Yang Kuasa. Jadi jangan pernah membanding-bandingkan diri dengan siapapun. Fokus saja pada apa yang kita sukai dan mau kita jalani. Tetap menjadi diri sendiri, jaga komitmen, disiplinkan diri dan  yakinkan bahwa kita mampu menjadi yang terbaik setelah kita berusaha. JIka gagal, bangkit lagi dengan selalu tersenyum supaya enerji positif bisa jadi sumber tenaga kita. Semangat ya !!

No One Left Behind…!! Bonusnya dureeenn hehehe.

Nah… sobat goweser perempuan, seru yaah ceritanya Gia ini. Apapun jenis sepeda kita dan aliran bersepeda yang kita pilih, nikmatilah tiap kayuhannya dari jiwa. Jangan pernah kita menilai apapun, jika kita belum pernah mencoba melakukannya. Kita bakar kembali semangat untuk mencoba hal-hal baru yang sepertinya tidak mungkin kita capai. Know your limit, lalu berlatih sesuai kemampuan secara perlahan teratur. Tubuh akan menyesuaikan hingga akhirnya kita bisa melewati batas yang seringkali kita bangun sendiri. Gia ini adalah salah satu bukti bahwa, sejatinya usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

** Praj 02/21 **

foto pada event: Demak Ijo/Kurniawan Buntoro dkk.